Ini Strategi PLN Tambal Kekurangan Subsidi Listrik Rp 20 Triliun
Equityworld Futures -Dalam APBN-P 2016 yang telah disepakati oleh pemerintah dan DPR,
subsidi listrik tetap Rp 38,3 triliun seperti dalam APBN, tidak ada tambahan.

Padahal, dana subsidi sebesar itu hanya cukup bila pencabutan subsidi untuk 18,7 juta pelanggan listrik rumah tangga 900 VA yang tidak layak disubsidi dijalankan sejak awal tahun ini.

Namun pemerintah dan DPR juga sepakat, pencabutan subsidi akan ditunda, tidak ada kenaikan tarif listrik 900 VA hingga akhir 2016.

Direktur Keuangan PLN, Sarwono Sudarto, mengungkapkan dampak dari keputusan pemerintah dan DPR tersebut adalah,

PLN harus nombok sampai sekitar Rp 20 triliun.
Sebab, penundaan pencabutan subsidi untuk pelanggan yang sebenarnya sudah mampu dan tidak layak disubsidi membuat anggaran bengkak hingga Rp 2,3 triliun per bulan.

“Memang berdampak karena ada 18,7 juta pelanggan yang tetap disubsidi,

itu sebulan habis sekitar Rp 2,3 triliun, akan ada beda sekitar Rp 20 triliun lebih.
Tapi pasti bisa diatasi,” kata Sarwono, dalam jumpa pers di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Rabu (29/6/2016).

Kekurangan dana subsidi sebesar Rp 20 triliun baru akan diganti oleh pemerintah setelah audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas subsidi listrik 2016 selesai.

Audit baru selesai kira-kira pertengahan 2017, maka baru diganti pemerintah paling cepat sekitar 1 tahun lagi.

Meski demikian, Sarwono tak khawatir dan sangat yakin masalah ini bisa teratasi.

Ada beberapa langkah yang akan dilakukan PLN untuk menambal subsidi.
Pertama dengan mengambil dana cadangan dari utang siaga (standby loan).

“Kami punya cadangan dana cukup, ada standby loan.

Tidak ada masalah likuiditas,” kata Sarwono.

Tak hanya dari utang, PLN juga melakukan efisiensi agar kekurangan subsidi bisa ditekan.

Efisiensi pertama dilakukan dengan mengurangi losses (penyusutan) listrik.
Losses dikurangi dengan membangun jaringan yang lebih andal, mengganti peralatan-peralatan tua,
dan memberantas pencurian listrik.

Sepanjang triwulan I-2016 (Januari-Maret), PLN telah berhasil menekan losses dari 9,8% pada akhir Desember 2015 menjadi 9,6% pada Maret 2016.

“Susut memang di triwulan I sudah lebih baik daripada Desember 2015.

Tahun lalu 9,8% sekarang 9,6%, turun 0,3%. Ada susut teknis dan non teknis.
Yang teknis misalnya karena kondisi jaringan, juga karena peralatan connector tidak bagus.
Yang dari teknis 7%, non teknis sisanya, itu dari pemakaian ilegal,” papar Direktur Bisnis Regional Sumatera PLN, Amir Rosidin, di tempat yang sama.

Penyebab-penyebab losses terus diselesaikan oleh PLN.

Targetnya losses bisa berkurang 1% menjadi 8,8% pada akhir 2016 ini.

Kalau losses berkurang 1%, PLN bisa menghemat subsidi sampai Rp 3,2 triliun.

“Kita harus menemukan lokasi-lokasi yang pencuriannya (listrik) tinggi,
setiap hari ada target dan realisasi, setiap malam dilaporkan dan itu ada gambarnya.
Dengan langkah-langkah itu susut saya yakin bisa ditekan. Kalau turun 1% itu kita hemat Rp 3,2 triliun,” kata Amir.

Selain itu, PLN juga terus mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM).

Baik pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) milik sendiri maupun PLTD sewa,
penggunaannya terus dikurangi dan digantikan oleh pembangkit yang energinya lebih murah, misalnya pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

“Di Sumatera pada 2015 ini beberapa pembangkit batu bara mulai beroperasi.

Misalnya PLTU Pangkalan Susu 2 x 200 MW dan PLTU Nagan Raya 2 x 100 MW, itu menyubstitusi 150 MW PLTD. Biaya sewa PLTD berkurang, pemakaian BBM juga berkurang,” pungkasnya.
Sumber : detik.com