Equityworld Futures– Aksi menyindir lewat kampanye marketing meluas ke isu monopoli yang dilakukan oleh salah satu operator.

Telkomsel memang tak disebut secara tegas dalam pernyataan Indosat tersebut, namun sebagai operator terbesar di Indonesia, Telkomsel terpaksa buka suara.

Perkembangan industri telekomunikasi di Indonesia saat ini semakin kompetitif, dimana setiap operator terus berlomba untuk memberikan produk dan layanan dengan kualitas terbaik kepada pelanggannya untuk memenangkan pasar.

Hal ini pun terus mendorong Telkomsel — yang baru merayakan hari jadinya ke-21 tahun — untuk melakukan berbagai inovasi dari sisi produk dan layanan, serta terus membangun jaringannya hingga ke seluruh pelosok Indonesia.

Menanggapi pemberitaan yang berkembang saat ini mengenai praktik monopoli layanan telekomunikasi di luar Jawa.

Tepis Monopoli, Telkomsel: Ini Hasil Jatuh Bangun 21 Tahun – Equityworld Futures

Telkomsel menegaskan bahwa dominasinya di luar Pulau Jawa bukan merupakan praktik monopoli.

Vice President Corporate Communications Telkomsel Adita Irawati mengatakan, penguasaan pasar oleh Telkomsel di luar Pulau Jawa diraih melalui sebuah proses yang panjang dan jatuh bangun yang luar biasa sejak berdirinya di tahun 1995.

“Semangat membangun hingga ke pelosok merupakan semangat yang dimiliki oleh Telkomsel untuk menyatukan Nusantara, dimana pada saat itu operator lain lebih fokus membangun di Pulau Jawa dan kota besar yang secara bisnis lebih menguntungkan,”

tegasnya dalam keterangan yang diterima detikINET, Senin (20/6/2016).

Terlebih lagi lokasi-lokasi pembangunan jaringan di luar pulau Jawa memiliki pasar yang tidak besar, dan pada saat yang bersamaan belanja modal (capital expenditure) yang dikeluarkan sangat besar.

Begitu pula ketika dioperasikan, juga lebih mahal karena biaya produksi dan operasional jauh lebih tinggi dibandingkan di Pulau Jawa.

Namun, lanjut Adita, Telkomsel tetap membangun, karena hal ini merupakan bagian dari komitmen membangun di seluruh Indonesia

Yang juga sudah tertuang dalam Modern Licensing, seperti yang diamanatkan dalam UU Nomor 36/1999 tentang Telekomunikasi.

“Hingga saat ini Telkomsel merupakan satu-satunya operator yang berkomitmen untuk melakukan pembangunan infrastruktur telekomunikasi seluler hingga ke berbagai daerah pelosok, perbatasan dan pulau terluar Indonesia,

guna membuka akses telekomunikasi bagi masyarakat Indonesia,” Adita menambahkan.

Equityworld Futures – 116.000 BTS Telkomsel yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia

Hal ini dapat terlihat dari tergelarnya 116.000 BTS Telkomsel yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia

Dimana angka penambahan jaringan ini dilakukan secara konsisten dengan rata-rata sebesar 25% setiap tahunnya.

“Konsistensi pembangunan jaringan ke berbagai daerah ini sudah merupakan semangat Telkomsel dan ke depannya komitmen ini pun akan terus dijaga.

Sehingga lebih banyak lagi masyarakat Indonesia di berbagai lokasi yang dapat menikmati layanan telekomunikasi yang berkualitas,” tutup Adita.

Sebelumnya, Deva Rachman, Group Head Corporate Communications Indosat Ooredoo menyatakan,

pasar di luar Jawa saat ini dikuasai oleh satu penyelenggara yang menguasai lebih dari 80% pasar telekomunikasi.

“Menurut ketentuan UU tentang persaingan usaha, jika terjadi penguasaan pasar lebih dari 50%, maka patut dianggap telah terjadi praktek monopoli.

Sehingga negara harus hadir untuk menciptakan persaingan usaha yang sehat,”

jelas Deva dalam keterangannya yang dikutip detikINET, Minggu (19/6/2016).

Penguasaan pasar telekomunikasi di luar Jawa oleh satu penyedia layanan yang bersifat monopolistik

dinilai Indosat membuat masyarakat menjadi rentan terhadap kenaikan tarif layanan yang terang-terangan ataupun yang diam-diam.

Dari data yang dipaparkan Indosat, survei yang dilakukan kepada pelanggan di luar Jawa menunjukkan tingginya tarif layanan.

Di beberapa daerah, para pelanggan harus membayar 7 kali lipat lebih mahal.

Pelanggan bahkan sering tidak menyadari adanya kenaikan harga yang dikenakan dalam segmen-segmen waktu serta hari-hari tertentu.

Selain soal tarif, Indosat pun mengungkapkan panasnya persaingan antar operator seluler di lapangan yang menjurus perilaku persaingan tidak sehat serta biaya interkoneksi yang masih terlalu tinggi.

“Banyak produk-produk kami diborong di pasar oleh pihak kompetitor, shop sign kami dipaksa untuk diganti dengan shop sign kompetitor.

Serta outlet-outlet yang menjual produk kami banyak mendapatkan ancaman oleh pihak kompetitor dan diminta agar tidak menjual kartu perdana kami,” Deva menegaskan.

“Kami mengimbau kepada semua pihak yang terkait bahwa kondisi ini harus segera dibenahi.

Kami berharap pemerintah dan semua pihak yang berwenang melakukan penegakan regulasi untuk mewujudkan persaingan usaha yang sehat.

Dengan kita bersaing sehat, masyarakat bisa menikmati layanan komunikasi dan akses informasi yang terbaik bagi peningkatan kualitas masyarakat dan perekonomian nasional,” tandasnya. Equityworld Futures

Sumber : Detik.com