Equityworld Futures  – Go-Jek menjelma menjadi salah satu startup paling bernilai di Indonesia. Berstatus unicorn, valuasi perusahaan ojek online yang didirikan Nadiem Makarim ini sudah di atas USD 1 miliar. Namun meski sudah demikian terkenal, belum jelas diketahui struktur perusahaan tersebut.

Nah, sebuah bocoran membeberkan struktur internal Go-Jek yang terdiri dari warga Indonesia maupun orang asing. Bocoran firma konsultasi investasi Momentum Works dari berkas yang diserahkan Go-Jek kala pengumpulan dana terkini, mengungkap susunan Dewan Direksi dan Dewan Komisaris Go-Jek.

Menurut keterangan Momentum Works yang dikabarkan oleh Deal Street Asia, pendiri dan CEO Go-Jek, Nadiem Makarim, masuk dalam susunan Dewan Direksi Go-Jek. Ia juga memegang 4,81% total saham Go-Jek dengan jumlah 58.416 lembar.

Pendiri Go-Jek lain yaitu Kevin Aluwi yang juga menjabat sebagai Chief Information Officer, masuk pula dalam susunan Dewan Direksi. Dia memiliki 205 lembar saham.

Dewan Direksi Go-Jek yang lain adalah Andre Soelistyo, Antoine de Carbonnel, Hans Patuwo, Monica Lynn Mulyanto dan Thomas Kristian Husted. Antoine de Carbonnel adalah Chief Commercial Officer dan Andre Soelistyo posisinya Presiden Go-Jek.

Dewan Komisaris Go-Jek

Nadiem Makarim dalam bocoran dari Momentum Works juga menjadi ketua Dewan Komisaris Go-Jek. Totalnya adalah 9 orang anggota di Dewan Komisaris. Mereka ini menjadi wakil dari para investor yang menanamkan dananya pada Go-Jek.

Selain Nadiem, sosok lain yang menjadi anggota Dewan Komisaris Go-Jek adalah Jeffrey Perlman selaku Managing Director, Head of Southeast Asia, Warburg Pincus, kemudian George Raymond Zage III dari Farallon Capital Asia, lalu Hotak Chow selaku Principal Capital Group, ditambah Kusumo Martanto yang adalah CEO BliBli.com dan COO GDP Venture serta Zhaohui (Jeffrey) Li dari Tencent Investment.

Lalu ada Pandu Patria Sjahrir selaku Director Toba Bara kemudian Pradyumna Agrawal yang menjabat Director Temasek dan terakhir Prijono Sugiarto selaku President Director Astra International.

Sebagian perusahaan yang disebutkan tersebut sudah diberitakan sebagai investor Go-Jek. Sebut saja Astra dan PT Global Digital Niaga yang juga membawahi Blibli, diketahui ikut serta pada tahun ini mengucurkan modalnya pada Go-Jek.

Sejarah Singkat Investasi Go-Jek

Menurut Crunchbase yang disusun CNBC Indonesia, Investor awal Go-Jek adalah Northstar Grup. Perusahaan private equity yang berkantor pusat di Singapura ini bekerja sama dengan Modal Ventura miliknya, NSI Venture dan beberapa investor menyuntikkan dana sebesar USD 2 juta atau setara Rp 26,8 miliar.

Pada tahun 2015, Go-Jek kembali disuntik namun tak dipublikasikan dana yang didapat. Pemberi dana berasal dari NSI Venture, Sequoia Capital, DST Global.

Setahun kemudian, daftar investor asing yang masuk Go-Jek bertambah. Konsorsium investor yang dipimpin Warburg Pincus dan KKR & Co. yang menyuntikkan dana sebesar USD 550 juta (Rp 7,37 triliun). Termasuk didalamnya Formation Grup, Farallon Capital Management, Capital Grup dan Rakuten.

Lalu pada 2017, konsorsium investor yang dipimpin Tencent Holdings menyuntikkan dana USD 1,2 miliar (Rp 16,08 triliun). Selain Tencent, dalam konsorium ini ada juga Temasek Holdings, Meituan-Dianping, JD.com dan Google.

Suntikan modal yang besar itu dipakai Go-Jek untuk mengembangkan berbagai layanannya. Dan untuk mendukung upaya ekspansinya di Asia Tenggara dengan Vietnam, Thailand dan Singapura sebagai deretan negara perdana.

Equityworld Futures

Equityworld